Friday, June 19, 2009

Iman Inside


Pernahkah terlintas di hati kita, apakah kita sebenarnya sudah beriman kepada Allah SWT dengan sebenar-benar iman? Apakah dengan pelaksanaan amal ibadah sudah menjadikan kita sebagai seorang yang beriman kepada Allah?

Di sini, saya ingin berkongsikan sebuah catatan ringkas daripada buku karangan Dr. Yusuf Al-Qardhawi bertajuk Iman dan Kehidupan (Al-Iman wal Hayyah)

Mengikut Dr Yusuf, Iman menurut pengertian yang sesungguhnya ialah suatu kepercayaan yang meresap ke dalam hati, dengan penuh keyakinan, tidak bercampur syak dan ragu, serta memberi pengaruh bagi pandangan hidup,tingkah laku dan perbuatan sehari-hari. Jadi, iman itu BUKANLAH sekadar perbuatan semata-mata, dan bukan pula hanya merupkan pengetahuan tentang rukun iman.

Di bawah ini adalah penjelasan tentang hakikat keimanan daripada Dr. Yusuf Al-Qardhawi:

Sesungguhnya iman itu bukanlah semata-mata pernyataan seseorang dengan lidahnya, bahawa dia orang beriman (mukmin), kerana banyak orang-orang munafik yang mengaku beriman dengan lidahnya, sedang hatinya tidak percaya, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah SWT;

"Dan diantara manusia itu ada yang mengatakan, "kami beriman kepada Allah dan hari Akhirat, sedang yang sebenarnya mereka bukan orang-orang yang beriman. Mereka hendak menipu Allah dan menipu orang-orang yang beriman, tetapi yang sebenarnya mereka menipu diri mereka sendiri dan mereka tidak sedar."
Al-Baqarah: 8-9


Iman itu bukan pula semata-mata mengerjakan amal dan syi'ar yang biasa dikerjakan oleh orang-orang beriman seperti Solat Jumaat, berpuasa di bulan Ramadhan dan menunaikan fardhu haji, kerana banyak penipu-penipu besar yang pada lahirnya mengerjakan perbuatan yang soleh dan melakukan ibadat, sedangkan dalam hati mereka sebenarnya kosong dari pengikhlasan kepada Allah SWT, sebagaimana disebutkan dalam firman Allah SWT;

"Sesungguhnya orang-orang munafik itu hendak menipu Allah, dan Allah menipu mereka. Apabila mereka berdiri mengerjakan sembahyang, mereka berdiri dengan malas, mereka ria (mengambil muka) kepada manusia dan tiada mengingati Allah, melainkan sedikit sekali."
An-Nisa': 142


Bukan pula iman itu semata-mata mengetahui erti dan hakikat iman, kerana ramai orang yang mengetahui hakikat iman itu, padahal mereka tidak beriman, sepertimana golongan-golongan bijak dari Barat, yang mana mereka mengkaji tentang Islam dan Iman, tetapi hati mereka masih tidak beriman kepada Allah. Firman Allah SWT;

"Mereka menyangkal (membantah) keterangan-keterangan (agama) Allah kerana dengki dan sombong, padahal hati mereka sendiri meyakininya."
An-Naml: 14


Maka diperlukan keimanan itu dapat diterima akal sampai kepada tingkat keyakinan yang teguh kuat tidak digoncangkan bimbang dan ragu, sebagaimana disebutkan di dalam firman Allah SWT;

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu ialah mereka yang beriman (percaya) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu."
Al-Hujurat: 15


Keimanan itu disamping pengetahuan, pengertian dan kepercayaan yang kuat perlu sejalan dengan ketundukan hati, kepatuhan kemahuan dan kerelaan menjalankan perintah dan putusan dengan kejujuran hati, sebagaimana Allah SWT berfirman;

" Maka demi Tuhan engkau, mereka belumlah dinamakan beriman, sebelum mereka meminta keputusan kepada engkau (Muhammad) dalam perkara yang menjadi perselisihan diantara mereka, kemudian itu mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap apa yang engkau putuskan dan mereka menerima dengan senang hati."
An-Nisa': 65


Keimanan itu di samping pengetahuan dan pengertian hendaklah menimbulkan semangat bekerja dan berkorban dengan harta dan diri, sesuai dengan kehendak iman dan kewajipan orang beriman. Didapati sifat orang beriman itu dalam Al-Quran, diantaranya;

" Sesungguhnya orang-orang beriman itu, apabila disebut nama Allah, hati mereka penuh ketakutan, dan apabila dibacakan pada mereka ayat-ayat (keterangan) Allah, keimanan mereka bertambah kerananya dan mereka menyerahkan diri kepada Tuhannya. Mereka mengerjakan sembahyang dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orang-orang yang sebenarnya beriman."
Al-Anfal: 2-4


Al-Quran selalu mengemukakan dan menggambarkan iman itu dalam bentuk budi pekerti yang baik dan amal yang berguna, sebagai garis pemisah antara orang-orang beriman dengan orang-orang kafir dan munafik, sebagaiman disebutkan di dalam firman Allah SWT;

" Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yakni) mereka yang khusyu' dalam sembahyangnya. Dan yang menjauhkan diri dari (perkataan dan perbuatan) yang tidak berguna. Dan yang mengeluarkan zakat. Dan yang menjaga kesopanannya....."
Al-Mukminun: 1-5


Daripada penjelasan ini, dapatlah kita ketahui bahawa iman itu bukanlah percakapan mengatakan aku sudah beriman, bukanlah juga pada perbuatan amal soleh semata-mata tanpa mempunyai keikhlasan dalam beramal, dan juga bukanlah sekadar mempunyai pengetahuan yang meluas.

Tetapi iman adalah satu kepercayaan yang teguh dan ianya perlu juga ditampilkan dalam kehidupan harian. Sekiranya seseorang itu kerap mengerjakan sembahyang di masjid tetapi mulutnya kerap menyakitkan hati orang lain, adakah orang itu dikira beriman berdasarkan keterangan-keterangan di atas?

Bukankah Rasulullah telah menceritakn sebuah kisah yang berkaitan dengan ini dahulu? Apabila seorang wanita yang kerap beribadah di malam hari, dan berpuasa di siang hari, tetapi melakukan penganiyaan terhadap binatang makhluk Allah. Dan apakah penghujungnya?




No comments:

Post a Comment